“Seseorang di India sekali pernah mengatakan padaku jika bunga juga tertawa”
“Semua bunga?”
“Ya, semuanya. Semua bunga yang bisa kau pikirkan.”
“Dan apa yang kau katakan kepada orang itu?”
“Kukatakan padanya aku ikut tertawa”
***
“Apa yang kau impikan?”
“Melukis sebuah gambar dengan kata-kata”
“Kenapa?”
“Karena beberapa kata tidak dapat di ungkapkan”
Tawanya renyah seperti pasir halus yang berada di sela-sela jari.
“Aku lebih suka melukis dengan warna lembut, tapi terlihat hidup seperti air”
“Kenapa?”
“Karena lukisanku harus dikenang. Lukisanku tidak akan bisa dilupakan”
***
“Apa kau akan mengingatku setelah 10 tahun?”
“Kupikir kita harus menunggu 10 tahun itu lebih dulu”
“Tidak bisakah kau menjawabnya sekarang?”
“Aku ingin menjawabnya, tapi aku benci memikirkan apa yang aku lakukan 10 tahun kemudian untuk mengingatmu hari ini”
***
“Besok akan jadi lebih baik”
“Bagaimana jika tidak?”
“Kalau begitu katakakan itu lagi besok, karena mungkin akan terjadi ; kau tak akan pernah tahu. Di beberapa poin, besok akan menjadi lebih baik”
***
“Malam menakutkan bagiku”
“Aku akan memelukmu. Kau tidak akan takut lagi”
“Bukankah itu berarti kau akan melepasku saat malam berakhir?”
“Aku akan memelukmu sampai malam esok datang”
***
“Tidak ada orang yang peduli dengan keberadaan kita. Tapi mereka berpura-pura. Tentu, mereka hanya berpura-pura”
“…tapi kenapa?”
“Karena seseorang membutuhkan seseorang untuk peduli kepada mereka, juga”
“Kenapa?”
“Karena manusia sebagai makhluk rapuh memiliki hasrat kebutuhan emosi
bodoh seperti cinta. Dan pada akhirnya, kita semua akan tetap sendiri
karena orang yang memberitahukan kita bahwa mereka peduli itu bohong”
“Kenapa?”
“Karena mereka juga manusia, egois, menyedihkan untuk bisa merasa dicintai”
***
“Bagaimana kau diingat? Dengan langkah kakimu saat kau pulang dari
bekerja? Dengan suara gemericik air di dalam kamar mandi saat kau
mencuci muka? Dengan kehangatan yang kau tinggalkan saat kau pergi di
waktu pagi?”
“Aku ingin diingat seperti lautan”
“Lautan?”
“Seperti air laut yang berada di kakimu, dan ombak yang menarik kuat
kakimu saat kau berbaring untuk tidur. Mungkin, seperti pasir yang
berada di rambutmu juga. Itu akan susah di hilangkan. Aku ingin di ingat
sebagaimana semua yang berada di sekitarmu”
***
“Apa yang kau pikirkan tentang musim semi?”
“Musim semi? Itu seperti awal dari keabadian, dimana bunga-bunga baru
mulai tumbuh dan burung-burung membangunkanmu di pagi hari dengan
nyanyian merdu pagi mereka. Itu seperti mengambil nafas dalam dan
membuka matamu untuk melihat seluruh dunia yang baru. Musim semi itu
seperti perasaan jatuh cinta”
“Tapi musim berubah. Musim semi pasti berakhir”
“Tapi tidak pernah terlupakan. Kita semua tahu jika suatu hari, kau
akan terbangun bersamaan dengan musim semi di ambang pintumu lagi”
***
“Seberapa kuat kau pikir sayap sebuah pesawat itu?”
“Cukup kuat untuk membawa orang-orang terbang dan membawa mereka kembali ke tempat asal mereka”
“Parasut?”
“Kenapa dengan parasut?”
“Apa kau pikir parasut-parasut itu akan bisa menyelamatkan kita saat jatuh?”
“Tidak, parasut hanya bisa menopang kita di atas udara sampai kita
tahu apa yang akan kita lakukan dengan hidup kita. Saat kita siap, kita
akan menarik talinya dan berharap untuk bertahan hidup”
“Tapi aku tidak ingin bertahan hidup, aku ingin hidup.”
“Kita semua hidup dengan cara yang berbeda. Kita tidak selalu harus
hidup seperti ini. Aku tahu, aku hidup di suatu tempat dalam dirimu,
begitu juga kau yang hidup di suatu tempat di dalam diriku”
***
“Aku tidak ingin mati”
“Tidak ada seorangpun yang benar-benar mati. Kita diberikan waktu
seumur hidup untuk membuat kenangan, dan kenangan tidak akan mati
begitu saja”
“Kenangan akan memudar”
“Kita membuat kenangan dengan kenangan itu sendiri. Jika kenangan itu cukup nyata, mereka tidak akan memudar”
“Apa kau yakin?”
“Ya, aku sangat yakin”
“Kalau begitu maukah kau membuat kenangan denganku?”
“bukankah aku selalu?”
***
“Apa kau percaya cinta?”
“Aku percaya cinta seperti bagaimana orang-orang mempercayai fairy-tale”
“Kenapa? Bagaimana kau tahu kalau itu benar-benar ada?”
“Kau tidak perlu. Tapi fairy-tale ada disana. Kau bisa merasakannya,
juga, tapi kau tidak akan tahu jika fairy-tale memang ada disana sampai
itu kau melewatinya”
“Bagaimana bisa?”
“Karena bersamaan dengan itu, disana, perasaan spesial ini berbeda
kepada setiap orang. Aku sendiri, merasakan itu sebagai sebuah musim
semi yang baru jika perasaan itu datang”
“Benarkah?”
“Ya, ini mungkin tidak masuk akal, tapi semua akan masuk akal suatu hari”
***
“Bagaimana jika itu menjadi kesalahan?”
“Tidak ada yang menjadi kesalahan tanpa alasan. Meskipun jika itu salah atau tidak, kita akan selalu bertemu lagi”
“Janji padaku itu”
Bibir lembut menekan puncak rambutnya.
“Tidakkah aku sudah menjanjikan itu padamu?”
Sebuah senyuman lembut di pagi yang sangat awal. Sebuah tangan menarik ke atas selimut yang berada di sekeliling tubuhnya.
***
“Apa kau takut?”
“Ketakutan tidak relevan. Aku khawatir”
“Kenapa?”
“Apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu dimengerti dengan keheningan.
“Aku akan menunggu sampai kita bertemu lagi”
***
“Aku ingin mati saat musim semi”
“Musim semi?”
“Karena kau bilang, musim semi adalah awal dari keabadian. Aku ingin
mati sambil mendengarkan kicauan pagi dan bunga-bunga yang tertawa”
“Aku akan selalu mengingatmu seperti itu”
“Kau tahu, saat kau bilang padaku kau bertemu dengan seorang laki-laki di India, kupikir kau bertemu dengan Ghandi”
“Kebijaksanaan itu seperti cinta itu sendiri. Terlihat begitu
sederhana, tetapi ternyata tidak seperti itu. Kerumitan dari
kesederhanaan yang membuat semuanya terlihat bertentangan”
***
Cr:Fruitbasket.Wp